Nederland

Dalam keadaan marabahaya dari Kulturkampf Muder M. Clara terpaksa pergi ke luar negeri untuk mengemis. Maka para suster mendekati Uskup Dr Konrad Martin dari Paderborn dan Uskup Belanda dari Utrecht dan Haarlem, minta persetujuan, pergi ke Belanda untuk menenangkan diri. Maka, pada 1874 -1875 relasi pertama dan mendirikan cabang-cabang disiapkan di Belanda . 

Pendirian pertama dimulai pada 1875 di Bodegraven. Karena para suster tidak tahu bahasa, maka pada awalnya mereka mulai dengan perawatan pasien rawat jalan dan mengajari gadis-gadis muda menjahit. Kemudian berkarya di sekolah dasar, sekolah menengah, asrama, sekolah menjahit, serta TK yang besar.

1875

Bodegraven

 nl 3

nl 6
 

1875

Vlissingen

Di Vlissingen mereka mulai pada tahun 1875 dengan mengasuh anak-anak yatim piatu dan merawat orang sakit dengan rawat jalan. Dari awal mereka mulai dari yang sederhana dan dengan segera membangun di berbagai kota di Belanda suatu karya yang luas baik di bidang keperawatan, sekolah, menjahit dan taman kanak-kanak.

Pada tahun 1885 sebuah cabang kecil didirikan di Haarlem,dan dari sini merawat pasien dengan rawat jalan. Pada tahun 1889 di"Mariastichting" dibangun Rumah sakit besar, di mana selama beberapa puluh tahun banyak Suster melayani orang sakit.

1885

Haarlem

nl 1
 

 nl 4

1980’s

Mariastichting

Pada  tahun 1980-an rumah sakit di Mariastichting bergabung dengan Rumah Sakit Diakones di Heemstede. Dengan nama baru Spaarne-Ziekenhuis dibangun beberapa tahun yang lalu diluar Haarlem di Hoofddrop.

nl 2
 

Sejak tahun 1920 Suster-suster di Belanda menjadi sebuah provinsi yang mandiri dengan nama pelindung Santo Fransiskus, dan pada tahun 1921 didirikan rumah induk di Heemstede. Pada tahun 1923 di Aerdenhout yang Boekenroode, tanah yang luas dengan sebuah rumah mewah bisa dibeli, dimana sejak saat itu telah diresmikan sebagai rumah induk dan juga tempat  postulan dan Novisiat.

1920/1921/1923

Heemstede/ Aerdenhout

 mutterhaus aerdenhout

 4

1930

Indonesien

Pada tahun 1930 Propinsi Belanda menerima undangan untuk memulai misi di Indonesia.

7
 

Dalam perjalanan waktu banyak perubahan telah terjadi. Sedikit demi sedikit para Suster harus melepaskan pelayanan di rumah sakit atau di sekolah-sekolah. Mereka kemudian mengambil alih pelayanan baru.

Go to top