Pesta Stigmata – St. Fransiskus dan Muder M. Clara Pfaender

Mendengar apa yang dikatakan Muder M. Clara hari ini:

feste2Setelah kita melalui masa Paskah menurut Tahun Liturgi, kita merayakan pesta-pesta penting lainnya, yaitu Pentakosta, Tubuh Kristus, Hati Kudus Yesus dan Maria. Masing-masing perayaan membawa makna yang besar dalam perjalanan  iman kita, yang memberikan kita selalu wawasan baru dan lebih dalam. Perayaan-perayaan ini membawa kesadaran kita dengan cara yang berbeda di mana Allah hadir diantara kita: melalui Roh Kudus, Ekaristi dan Hati.

Pada hari raya Pentakosta, hari kelahiran Gereja, kita membaca dalam Kitab Suci bahwa para murid berada dalam rumah sementara pintu-pintu terkunci karena ketakutan. Yesus menampakkan diri dihadapan mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Meskipun Yesus menampakkan diri dengan tiba-tiba di tengah-tengah mereka secara menakjubkan, namun salam damai menghibur mereka dan mereka bersukacita atas kehadiran-Nya. Ketakutan mereka diubah menjadi sukacita dengan menerima Roh Kudus, iman mereka bertambah dan Yesus berkata kepada mereka: ”Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20, 21)." Mereka diutus untuk mewartakan Kabar Sukacita bahwa Yesus hidup!

feste3Para murid dipenuhi dengan Roh Kudus mereka diutus membawa kehadiran Kristus, dengan mewartakan Kabar Baik bahwa begitu besar kasih Allah akan dunia ini dimana Allah mengutus Yesus supaya kita memperoleh hidup yang kekal, dan kita memperolehnya dengan penuh. (Yoh 3, 16-18). Kepenuhan itu datang kepada kita melalui Roh yang kita terima yaitu karunia kebijaksanaan (hati yang cerdas), pemahaman (wawasan), nasehat (saling berbagi), ketabahan (kekuatan untuk tetap kuat), pengetahuan (saling memahami), kesalehan (menjalin hubungan dengan Allah), dan takut akan Tuhan (Tuhan Mahabesar dari semua ciptanNya).

Inilah Roh yang sama yang memungkinkan kita untuk menjalin komunikasi lebih erat dengan Yesus dalam Ekaristi. Yesus adalah roti hidup dari surga yang kita rayakan dalam Tubuh Kristus. Dengan kesederhanaanNya, Yesus merendahkan diri dalam  bentuk rupa roti, Yesus tinggal bersama kita. "Roti yang Kuberikan itu adalah dagingKu yang akan kuberikan untuk kehidupan dunia... barang siapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku." (Yoh 6, 51, 57). Yesus, yang dikenal oleh para murid dalam pemecahan roti, mengajak kita untuk melakukan hal ini juga untuk mengenangNya. Setiap kali kita memecahkan roti hidup kita membagikan tubuh Kristus. Kita mengambil bagian dalam rasa sakit dan penderitaan dunia, yang ada di sekitar kita. Kita tidak mampu melakukannya sendiri, tetapi Ekaristi adalah santapan untuk perjalanan hidup kita, santapan rohani kita.

mutter m. clara 1

Pada hari raya Tubuh Kristus sebagai pusat kehadiran Yesus dalam diri kita melalui Perayaan Ekaristi, juga sembah sujud melalui Sakramen Mahakudus. Tetapi sembah sujud tidak hanya sebatas pada kehadiran kita didepan Sakramen Mahakudus, tetapi doa merupakan ungakapan penyembahanan kita kepada Allah, pengakuan untuk menjalin hubungan kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan sebagai pencipta kita. Semua ciptaan adalah pernyataan kehadiran Allah, sebelum kita berdiri dalam kekaguman.

Melalui Ekaristi dan Kitab Suci kita mengenal Hati Kudus Yesus. Yesus mengundang kita untuk lebih mendalami hubungan lebih erat dengan Dia, ketika Dia berkata: "Datanglah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11, 28). Apa maksud kata-kata penghiburan ini bagi kita ketika kita letih lesu dan berbeban berat dalam pelaya

nan kita. Datang, disegarkan! Datang, menemukan kedamaian – Aku menyertaimu.

Hari raya Hati Kudus adalah mengingatkan kita akan kasih Allah yang tak terbatas dan kekal. Ini merupakan undangan bagi kita untuk terbuka menerima cinta kasih itu. Jangan takut ... bukalah hatimu untuk menemukan ketenangan dalam Tuhan. Siapa yang tahu hati Yesus lebih baik daripada Maria, sepanjang hidupnya merenungkan dalam hatinya semua yang terjadi dalam kehidupan Yesus. Tentunya, ia tidak selalu mengerti, sama seperti kita tidak selalu mengerti apa yang terjadi dalam kehidupan kita sendiri, atau mengapa. Dengan Maria, kita diundang juga untuk merenungkan, merenungkan misteri Allah yang berkarya dalam hidup kita.

Muder M. Clara, menyebut kita Puteri-puteri Hati Kudus Yesus dan Maria, memanggil kita menjadi saksi kasih Allah melalui "melatih diri dalam cintakasih suci dengan rendah hati dan taat", sambil berusaha "untuk mempersatukan hidup doa dan karya sehingga karya disemangati, dikuatkan dan diteguhkan oleh doa dan karena itu berkat semakin melimpah "(Konst Awal II).. Maka marilah kita memberi kesaksian Tuhan di antara kita,

melalui Roh, Ekaristi dan Hati.

Go to top